Tugas
Teori Organisasi Umum
ke-3
DI SUSUN OLEH:
ERBA AFIDOTAMA
12113913
2KA21
1.
Kepemimpinan
a.
Pengertian
Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh
oleh pemimpin kepada pengikutnya
dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan
adalah “melakukanya dalam kerja” dengan praktik seperti pemagangan pada seorang
senima ahli, pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang ahli diharapkan
sebagai bagian dari peranya memberikan pengajaran/instruksi.
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan
memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama.
Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi,
memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk
memperbaiki kelompok dan budayanya. Sedangkan kekuasaan adalah kemampuan untuk
mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan pap yang diinginkan pihak
lainnya.”The art of influencing and directing meaninsuch away to abatain their
willing obedience, confidence, respect, and loyal cooperation in order to
accomplish the mission”. Kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhidan
menggerakkan orang – orang sedemikian rupa untuk memperoleh kepatuhan,
kepercayaan, respek, dan kerjasama secara royal untuk menyelesaikan tugas –
Field Manual 22-100.
b.
Tipe
Kepemimpinan
Berikut
adalah tipe-tipe kepemimpinan:
Tipe Demokratis
·
Dalam proses penggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa
manusia adalah makhluk termulia di dunia
·
Selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan
kepentingan dan tujuan pribadi dari para bawahannya
·
Senang menerima saran, pendapat bahkan kritik dari bawahannya
·
Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses dari padanya.
·
Selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan kerja tim dalam usaha mencapai
tujuan
·
Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin
·
Para bawahannya dilibatkan secara aktif dalam menentukan nasib sendiri
melalui peran sertanya dalam proses pengambilan keputusan.
Tipe Otokratis
·
Menganggap organisasi sebagai milik pribadi
·
Mengidentikan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi
·
Menganggap bawahan sebagai alat semata- mata
·
Tidak mau menerima kritik, saran, dan pendapat
·
Terlalu bergantung kepada kekuasaan formalnya
·
Dalam tindakan penggerakannya sering mempergunakan pendekatan yang
mengandung unsur paksaan dan punitif (bersifat menghukum)
Tipe Kharismatis
·
Hingga kini para pakar belum berhasil menemukan sebab- sebab mengapa
seorang pemimpin memiliki kharisma, yang diketahui adalah bahwa pemimpin yang
demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya
mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar. Karena kurangnya pengetahuan
tentang sebab musabab seorang menjadi pemimpin yang kharismatis, maka sering
dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib
(supernatural powers).
Tipe Militeristis
·
Sering mempergunakan sistem perintah dalam menggerakkan bawahannya
·
Senang bergantung pada pangkat dan jabatan dalam menggerakkan bawahannya
·
Senang kepada formalitas yang berlebih- lebihanMenuntut disiplin yang
tinggi dan kaku dari bawahan
·
Sukar menerima kritikkan dari bawahan
·
Menggemari upacara- upacara untuk berbagai acara dan keadaan.
Tipe Paternalistis
·
Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa
·
Bersikap terlalu melindungi
·
Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan
dan inisiatif
·
Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya
kreasi dan fantasinya
·
Sering bersikap maha tahu.
c.
Teori Kepemimpinan
1.
Teori Sifat
Teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin
ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin
itu. Atas dasar pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang
berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin. Dan kemampuan
pribadi yang dimaksud adalah kualitas seseorang dengan berbagai sifat, perangai
atau ciri-ciri di dalamnya. Ciri-ciri ideal yang perlu dimiliki pemimpin
menurut Sondang P Siagian (1994:75-76) adalah:
·
pengetahuan umum yang luas, daya ingat yang kuat, rasionalitas,
obyektivitas, pragmatisme, fleksibilitas, adaptabilitas, orientasi masa depan;
·
sifat inkuisitif, rasa tepat waktu, rasa kohesi yang tinggi, naluri
relevansi, keteladanan, ketegasan, keberanian, sikap yang antisipatif,
kesediaan menjadi pendengar yang baik, kapasitas integratif;
·
kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang, analitik, menentukan skala
prioritas, membedakan yang urgen dan yang penting, keterampilan mendidik, dan
berkomunikasi secara efektif.
Walaupun teori sifat memiliki berbagai kelemahan (antara lain : terlalu
bersifat deskriptif, tidak selalu ada relevansi antara sifat yang dianggap
unggul dengan efektivitas kepemimpinan) dan dianggap sebagai teori yang sudah
kuno, namun apabila kita renungkan nilai-nilai moral dan akhlak yang terkandung
didalamnya mengenai berbagai rumusan sifat, ciri atau perangai pemimpin; justru
sangat diperlukan oleh kepemimpinan yang menerapkan prinsip keteladanan.
2.
Teori Perilaku
Dasar pemikiran teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang
individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian
tujuan. Dalam hal ini, pemimpin mempunyai deskripsi perilaku:
I.
konsiderasi dan struktur inisiasi
Perilaku seorang
pemimpin yang cenderung mementingkan bawahan memiliki ciri ramah tamah,mau berkonsultasi, mendukung,
membela, mendengarkan, menerima usul dan memikirkan kesejahteraan bawahan serta
memperlakukannya setingkat dirinya. Di samping itu terdapat pula kecenderungan
perilaku pemimpin yang lebih mementingkan tugas organisasi.
II.
Berorientasi kepada
bawahan dan produksi
Perilaku pemimpin yang
berorientasi kepada bawahan ditandai oleh penekanan pada hubungan
atasan-bawahan, perhatian pribadi pemimpin pada pemuasan kebutuhan bawahan
serta menerima perbedaan kepribadian, kemampuan dan perilaku bawahan. Sedangkan
perilaku pemimpin yang berorientasi pada produksi memiliki kecenderungan
penekanan pada segi teknis pekerjaan, pengutamaan penyelenggaraan dan
penyelesaian tugas serta pencapaian tujuan.
Kecenderungan perilaku
pemimpin pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari masalah fungsi dan gaya
kepemimpinan (JAF.Stoner, 1978:442-443)
3.
Teori Situasional
Keberhasilan seorang pemimpin menurut teori situasional ditentukan oleh
ciri kepemimpinan dengan perilaku tertentu yang disesuaikan dengan tuntutan
situasi kepemimpinan dan situasi organisasional yang dihadapi dengan
memperhitungkan faktor waktu dan ruang. Faktor situasional yang berpengaruh
terhadap gaya kepemimpinan tertentu menurut Sondang P. Siagian (1994:129)
adalah
·
Jenis pekerjaan dan kompleksitas tugas;
·
Bentuk dan sifat teknologi yang digunakan;
·
Persepsi, sikap dan gaya kepemimpinan;
·
Norma yang dianut kelompok;
·
Rentang kendali;
·
Ancaman dari luar organisasi;
·
Tingkat stress;
·
Iklim yang terdapat dalam organisasi.
Efektivitas kepemimpinan seseorang ditentukan oleh kemampuan “membaca”
situasi yang dihadapi dan menyesuaikan gaya kepemimpinannya agar cocok dengan
dan mampu memenuhi tuntutan situasi tersebut. Penyesuaian gaya kepemimpinan
dimaksud adalah kemampuan menentukan ciri kepemimpinan dan perilaku tertentu
karena tuntutan situasi tertentu. Sehubungan dengan hal tersebut berkembanglah
model-model kepemimpinan berikut:
I.
Model kontinuum Otokratik-Demokratik
Gaya dan perilaku kepemimpinan tertentu selain berhubungan
dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, juga berkaitan dengan fungsi
kepemimpinan tertentu yang harus diselenggarakan. Contoh: dalam hal pengambilan
keputusan, pemimpin bergaya otokratik akan mengambil keputusan sendiri, ciri
kepemimpinan yang menonjol ketegasan
disertai perilaku yang berorientasi pada penyelesaian tugas.Sedangkan pemimpin
bergaya demokratik akan mengajak bawahannya untuk berpartisipasi. Ciri
kepemimpinan yang menonjol di sini adalah menjadi pendengar yang baik
disertai perilaku memberikan perhatian
pada kepentingan dan kebutuhan bawahan.
II.
Model ” Interaksi Atasan-Bawahan”
Menurut model ini,
efektivitas kepemimpinan seseorang tergantung pada interaksi yang terjadi
antara pemimpin dan bawahannya dan sejauhmana interaksi tersebut mempengaruhi
perilaku pemimpin yang bersangkutan.
Seorang akan
menjadi pemimpin yang efektif, apabila:
· Hubungan atasan dan
bawahan dikategorikan baik;
· Tugas yang harus
dikerjakan bawahan disusun pada tingkat struktur yang tinggi;
· Posisi kewenangan
pemimpin tergolong kuat.
III.
Model Situasional
Model ini menekankan
bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang tergantung pada pemilihan gaya
kepemimpinan yang tepat untuk menghadapi situasi tertentu dan tingkat
kematangan jiwa bawahan. Dimensi kepemimpinan yang digunakan dalam model ini
adalah perilaku pemimpin yang berkaitan dengan tugas kepemimpinannya dan
hubungan atasan-bawahan. Berdasarkan dimensi tersebut, gaya kepemimpinan yang
dapat digunakan adalah
· Memberitahukan;
· Menjual;
· Mengajak bawahan
berperan serta;
· Melakukan
pendelegasian.
IV.
Model ” Jalan- Tujuan “
Seorang pemimpin yang
efektif menurut model ini adalah pemimpin yang mampu menunjukkan jalan yang
dapat ditempuh bawahan. Salah satu mekanisme untuk mewujudkan hal tersebut
yaitu kejelasan tugas yang harus dilakukan bawahan dan perhatian pemimpin
kepada kepentingan dan kebutuhan bawahannya. Perilaku pemimpin berkaitan dengan
hal tersebut harus merupakan faktor
motivasional bagi bawahannya.
V.
Model “Pimpinan-Peran serta Bawahan” :
Perhatian utama model
ini adalah perilaku pemimpin dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan.
Perilaku pemimpin perlu disesuaikan dengan struktur tugas yang harus
diselesaikan oleh bawahannya.
Salah satu syarat
penting untuk paradigma tersebut adalah adanya serangkaian ketentuan yang harus
ditaati oleh bawahan dalam menentukan bentuk dan tingkat peran serta bawahan
dalam pengambilan keputusan. Bentuk dan tingkat peran serta bawahan tersebut
“didiktekan” oleh situasi yang dihadapi dan masalah yang ingin dipecahkan
melalui proses pengambilan keputusan.
a.
Pengertian
Penghargaan ialah
sesuatu yang diberikan pada perorangan atau kelompok jika mereka melakukan
suatu keulungan di bidang tertentu. Penghargaan biasanya diberikan dalam bentuk
medali, piala, gelar, sertifikat, plaket atau pita. Suatu penghargaan
kadang-kadang disertai dengan pemberian hadiah berupa uang seperti Hadiah Nobel
untuk kontribusi terhadap masyarakat, dan Hadiah Pulitzer untuk penghargaan
bidang literatur. Penghargaan bisa juga diberikan oleh masyarakat karena
pencapaian seseorang tanpa hadiah apa-apa.
b.
Imbalan
Imbalan adalah satu
upaya yang dilakukan oleh manajemen untuk meningkatkan prestasi kerja, motivasi
dan kepuasan kerja para karyawan. Kompensasi dapat berupa upah per jam, hari
atau gaji yang bersifat periodik (Triton, 2010:123).
Kompensasi adalah fungsi manajemen sumber daya
manusia yang berkaitan dengan semua bentuk penghargaan yang dijanjikan akan
diterima karyawan sebagai imbalan dari pelaksanaan tugas dalam upaya pencapaian
tujuan perusahaan (Ivancevich, 1998).
Imbalan adalah jumlah pembayaran yang diterima
tingkat kesesuaian antara pembayaran tersebut dengan pekerjaan yang dilakukan
(Prof. Dr. FX. Suwarto, M.S.).
3. Kekuasaan dan Politik
a. Pengertian
Gilbert W. Fairholm mendefinisikan kekuasaan
sebagai “... kemampuan individu untuk mencapai tujuannya saat berhubungan
dengan orang lain, bahkan ketika dihadapkan pada penolakan mereka”. Kekuasaan
adalah gagasan politik yang berkisar pada sejumlah karakteristik. Karakteristik
tersebut mengelaborasi kekuasaan selaku alat yang digunakan seseorang, yaitu
pemimpin (juga pengikut) gunakan dalam hubungan interpersonalnya.
Perilaku politik (political behavior) dalam
organisasi didefinisikan sebagai akti#itas yang tidak dipandang sebagai bagian
dari peran formal seseorang di dalam organisasi, tetapi yang mempengaruhi, atau
berusaha mempengaruhi, distribusi keuntungan dan kerugian di dalam organisasi.
b. Sumber dan Bentuk Kekuasaan
I. Sumber Kekuasaan
· Sumber kekuasaan antar individu
(interpersonal sources of power).
Kekuasaan Formal (Formal Power) adalah kekuasaan yang didasarkan pada
posisi individual dalam suatu organisasi.
Kekuasaan Personal (Personal Power) adalah kekuasaan yang berasal dari
karakteristik unik yang dimiliki seorang individu.
· Sumber kekuasaan struktural
(structural sources of power). Kekuasaan ini juga dikenal dengan istilah
inter-group atau inter-departmental power yang merupa-kan sumber kekuasaan
kelompok.
II. Bentuk Kekuasaan
· Coercive Power (Paksaan)
Mempunyai kemampuan untuk memberikan hukuman
bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan yang tidak mengikuti
pemimpinnya.Dari sisi orangnya ia mempunyai penguasa, kemampuan untuk menghukum
atau memperlakukan seseorang yang tidak melakukan perintahnya. dan orang lain
mempunyai rasa takut terhadap orang tersebut. Contoh: Di dalam suatu keluarga
ada seorang yang paling tua diantara yang lain, jadi setiap ada acara dan
keluarga semua kumpul ketika ia memerintahkan seseorang tidak ada yang berani
menentang dan biasanya seluruh keluarga menuruti perintah dia karena takut.
· Insentif power ( imbalan )
Pematuhan yang dicapai berdasarkan kemampuan
untuk membagikan imbalan yang dipandang oleh orang lain sebagai berharga.
Imbalan adalah sesuatu yang meningkatkan frekuensi kegiatan seorang pegawai.
Sesuatu dinamakan imbalan atau bukan, tergantung pada keseluruhan pengaruh
terhadap perilaku pegawai. Jika kinerja seorang pegawai diikuti oleh sesuatu
dan kinerja lebih sering terjadi di saat kemudian setelah sesuatu, maka sesuatu
tersebut disebut imbalan. Imbalan dalam pekerjaan memungkinkan sebuah kinerja
akan diulang pada waktu yang akan datang. Contoh :seorang mahasiswa yang ingin
mendapatkan nilai yang bagus dengan dia selalu mengerjakan tugas dari dosen
serta selalu aktif dalam kelas.agar mendapatkan imbalan suatu nilai yang bagus.
· Legitimate power ( sah / resmi )
Kekuasaan yang diturunkan seseorang karena
wewenang, biasanya mencakup kekuasaan paksaan. upaya untuk membedakan antara
cara-cara yang dapat dibenarkan dengan yang tidak dapat dibenarkan. Tidak ada
campur tangan orang lain dan memberikan oleh seseorang. Contohnya : kekuasaan
jenderal terhadap para prajurutnya, kekuasaan kepala sekolah terhadap
guru-gurunya.
· Expert ( pakar atau keahlian )
Kekuasaan berdasarkan pada keahlian khusus.
Seseorang yang secara luas diakui sebagai dapat diandalkan sumber teknik atau
keahlian yang fakultas untuk menilai atau memutuskan dengan tepat, adil, atau
bijaksana adalah diberikan kewenangan dan status oleh rekan-rekan atau publik
baik yang spesifik - dibedakan domain. Ahli, lebih umum, adalah orang yang luas
pengetahuan atau kemampuan berdasarkan penelitian, pengalaman, atau pekerjaan
dan dalam bidang studi tertentu. Seorang pakar dapat, berdasarkan pelatihan,
pendidikan, profesi, publikasi atau pengalaman yang di yakini memiliki
pengetahuan khusus dari suatu subjek lebih dari itu dari rata-rata orang,
contoh :seorang klien yang menceritakan masalah rumah tangganya kepada psikolog
klien percaya bahwa psikolog tersebut dapat membantu klien dalam memberikan
saran.
· Referent power ( kekuasaan rujukan )
Pengaruh yang didasarkan pada pemilikan sumber
daya atau ciri pribadi yang di inginkan oleh sseorang. Referent Power
(kekuasaan rujukan) adalah kekuasaan yang timbul karena karisma, karakteristik
individu, keteladanan atau kepribadian yang menarik. Contoh : seseorang yang
sangat mengidolakan idolanya sampai koleksi foto bahkan gaya dari sang idola
tersebut fans mengikutinya.
c. Teknik Kekuasaan dan Berpolitik
--__--__--__--__--__--__--__--__--__--__--__--__--__--__--___-__--__--__--__--
SUMBER:
Komentar
Posting Komentar