Budaya Belajar
Banyak
orang yang belajar dengan susah payah, tetapi tidak mendapatkan hasil
apa-apa, hanya kegagalan yang ditemui. Penyebabnya tidak lain karena
belajar tidak teratur tidak disiplin, dan kurang bersemangat, tidak tahu
bagaimana cara berkonsentrasi dalam belajar, mengabaikan masalah
pengaturan waktu dalam belajar, istirahat yang tidak cukup, dan kurang
tidur.
Menurut
ajaran Rousseau dalam Dalyono (2001:106), “Manusia itu pada dasarnya
baik, ia jadi buruk dan jahat karena pengaruh kebudayaan.” Namun,
pengaruh budaya yang lebih fatal terjadi apabila sebagian besar
masyarakat mengalami keterbelakangan budaya. Tirtarahardja (2000:246)
menggambarkan bahwa keterbelakangan budaya terjadi akibat dari
sekelompok masyarakat yang tidak mau mengubah cara dan kebiasaan yang
selama ini mengganggap dirinya sudah maju. Pada kelompok ini mereka
tidak mau menerima segala macam pembaharuan dan tidak mau mengubah
tradisi yang selama ini sudah diyakini kebenarannya.
Menurut
Koentjaraningrat (1990:147), “faktor budaya berkaitan dengan kultur
masyarakat yang berupa persepsi/pandangan, adat istiadat, dan
kebiasaan.” Peserta didik selalu melakukan kontak dengan masyarakat.
Pengaruh-pengaruh budaya yang negatif dan salah terhadap dunia
pendidikan akan turut berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan
anak. Peserta didik yang bergaul dengan teman-temannya yang tidak
sekolah atau putus sekolah akan terpengaruh dengan mereka. Dalam hal ini
Slameto (2003:73) berpendapat, “Banyak siswa gagal belajar akibat
karena mereka tidak mempunyai budaya belajar yang baik. Mereka
kebanyakan hanya menghafal pelajaran.”
Pendapat
tersebut dipertegas pula oleh William H. Burton dalam Hamalik (2004:26)
yang temasuk dalam salah satu prinsip belajar, yaitu: “Proses
belajar terutama terdiri dari berbuat hal-hal yang harus dipelajari di
samping bermacam-macam hal lain yang ikut membantu proses belajar itu.”
Berdasarkan
beberapa pendapat di atas secara implisit menyatakan bahwa budaya
belajar siswa mempunyai keterkaitan dengan prestasi belajar, sebab dalam
budaya belajar mengandung kebiasaan belajar dan cara-cara belajar yang
dianut oleh siswa. Pada umumnya setiap orang (siswa) bertindak
berdasarkan force of habit (menurut kebiasaannya) sekalipun ia tahu, bahwa ada cara lain yang mungkin lebih menguntungkan.
Sehubungan
dengan hal itu, budaya belajar siswa akan menjadi tradisi yang dianut
oleh siswa. Tradisi tersebut akan selalu melekat di dalam setiap
tindakan dan perilaku siswa sehari-hari baik di sekolah, di rumah maupun
di lingkungan masyarakat. Misalnya tradisi dalam memanfaatkan waktu
belajar, disiplin dalam belajar, kegigihan/keuletan dalam belajar, dan
konsisten dalam menerapkan cara belajar efektif.
Dengan
demikian dapat penulis jelaskan bahwa budaya belajar yang baik
mengandung suatu ketetapan, keteraturan menyelesaikan tugas, dan
menghilangkan rangsangan yang akan mengganggu konsentrasi belajar
sehingga semua itu akan berpengaruh terhadap prestasi belajarnya.
Kepribadian yang teratur sebagai salah satu barometer dari kejernihan
berpikir. Kejernihan berpikir yang diperlukan selama menuntut ilmu harus
dipertahankan. Demikian pula sebaliknya, budaya belajar yang kurang
baik akan membentuk siswa menjadi pribadi yang malas, bertindak
semau-maunya, dan ketidakteraturan.
___---___---___---___---___---___---___---___---___---___---___---___---___---___---___---___---__---___---___---
Sumber:
http://tarmizi.wordpress.com/2008/11/19/budaya-belajar-siswa/
Komentar
Posting Komentar